Tujuan Berbuat Kebaikan

⏯ Materi Lanjutan

💎 Tingkatan Akhlak Mulia 💎

👉🏻 Catatan Penting

Asy Syaikh Al Utsaimin rahimahullah mengingatkan sebuah  permasalahan yang masih banyak dilakukan oleh sebagian besar  manusia dengan tujuan untuk berbuat kebaikan. Masalah tersebut adalah: suatu musibah yang terjadi pada seseorang dan menyebabkan terjadinya kematian bagi orang lain, yaitu membuat celaka bagi pengendara atau pengguna jalan yang lain dan dengan tindakannya mengakibatkan kematian bagi orang lain. Kemudian datanglah keluarga dari orang yang meninggal tersebut lalu menggugurkan bayaran dendanya dari si pelaku.

Pertanyaannya, apakah sikap keluarga korban benar dengan menggugurkan denda atau meminta ganti tersebut merupakan perbuatan terpuji dan termasuk perilaku yang baik? Ataukah dalam masalah ini perlu diperinci lagi?

Jawabnya:
📝 Permasalahan tersebut perlu dirinci lagi. Kita harus mengamati dan memperhatikan keadaan pelaku yang telah terjadi musibah tersebut pada dirinya.

Apakah dia termasuk orang yang terkenal suka ugal-ugalan dan berkendara seenaknya sendiri suasana dan tidak punya rasa kepedulian dengan pengguna jalan yang lain? Apakah dia termasuk tipe orang yang berkata: “bodoh amat aku tidak peduli, walaupun dirinya telah mencelakai seseorang
karena dia merasa gampanglah nanti bisa membayar dendanya”, kita berlindung kepada Allah dari perkataan seperti ini. Ataukah Ia orang yang telah tertimpa musibah tersebut pada dirinya, namun ia mampu menjaga kesempurnaan akal dan keseimbangan diri, akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan pada tiap-tiap yang ditentukan?

Jika Ia termasuk tipe orang yang terakhir, memaafkannya tentu lebih utama. Akan tetapi meskipun dia termasuk tipe orang yang berakal dan sehat, sebelum kita memberi maaf kepadanya wajib kita perhatikan: apakah si mayit mempunyai tanggungan hutang? Seandainya ia memilikinya, maka kita tidak mungkin memaafkannya begitu saja. Dan seandainya kita memberi maaf, maka kata maaf dari kita tidak akan dianggap atau tidak sah.

Inilah permasalahan yang kadang kala terlalaikan oleh kebanyakan orang. Dan Asy Syaikh sengaja mengungkapkan hal ini karena para ahli waris mempunyai wewenang untuk mengambil haknya, yaitu berupa bayaran denda akibat musibah yang telah menimpa si mayit. Dan hak mereka tidak dapat ditolak kecuali setelah melunasi hutangnya  jika memang si mayit dahulunya mempunyai hutang.

Oleh karena itu ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan tentang harta warisan Dia berfirman:

ُ مِنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصِيْ بِهَاۤ اَوْ دَيْنٍ

“ Pembagian – pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya.” [QS. an-Nisaa’: 11].

Kesimpulannya, termasuk dari akhlaq yang mulia: mau memaafkan antar sesama manusia, dan hal ini masuk dalam kategori mengerahkan bantuan atau kedermawanan. Karena perilaku yang dermawan bisa dengan memberi, bisa juga dengan menggugurkan beban. Sedangkan memaafkan termasuk menggugurkan beban.

In syaa Allah bersambung…

•┈┈➖•◈◉✹❒📖❒✹◉◈•➖┈┈•

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

🖊 Ustadz Abu Salman Al-Kawasayni حفظه الله تعالى .

🌏 Di Bumi Allah Ruang Belajar, Kamis 22 Sya’ban 1438 H

🌐www.al-kwasayni.com
📪telegram.me/alkwasayni
🐦twitter.com/alkwasayni
🔵Fb: bit.ly/2o6WTJY
🖼Instagram: bit.ly/2p7rvbP
📹youtube: bit.ly/2odLKHL
📡Streaming: bit.ly/2o1B78B
📻Radio: 107.4 FM
♻WA : Daftar Al-Kwasayni Ketik
Nama#L/P#Alamat
Kirim 0821-1155-3775.
⁠⁠⁠
🌿🍃📚🌿🍃📚🌿🍃📚🌿🍃

جزاكم الله خيرا كثيرا

🚿 Jangan Lupa Share Ya ….!

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *