Tingkatan Akhlaq Mulia (6)

⏯ Materi Lanjutan

💎 Tingkatan Akhlak Mulia
👉🏻 Contoh ketiga:
❎ Pengharaman Riba:

Contoh ini merupakan masalah muamalah. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan riba bagi kita dengan pengharaman yang sangat keras. Dan Ia telah halalkan bagi kita jual beli. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang
masalah ini:

(الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ).

“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” [Al-Baqarah:275].

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengancam orang yang kembali lagi mengulangi perbuatan riba setelah sampai kepadanya penjelasan tentangnya sedang ia telah mengetahui
hukumnya dengan kekekalan di dalam api neraka kita
memohon perlindungan kepada Allah darinya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancamnya di dunia ini dengan
ketegasan akan memeranginya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ(٢٧٨)فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ(٢٧٩).

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu.” [QS. al-Baqarah: 278-279].

Hal ini menunjukan akan besarnya tindakan dosa ini, dan bahwasanya hal tersebut termasuk dosa besar dan perbuatan yang dapat membinasakan. Maka, seorang mukmin harus menerima hukum ini dengan rasa penuh kelapangan, keridhaan, dan kepatuhan. Adapun selain mukmin, maka ia tidak akan menerimanya dan dadanya pun akan terasa sempit.

Barang kali juga dia terus melakukannya, tetapi ia tutup-tutupi dengan beraneka ragam tipu muslihat.

Meskipun kita mengetahui secara sekilas bahwa perbuatan riba merupakan usaha yang sangat meyakinkan dan tidak terdapat di dalamnya bahaya apapun juga. Akan tetapi, pada hakekatnya riba merupakan suatu usaha bagi seseorang dan sekaligus merupakan kedzaliman bagi yang lainnya. Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُون.

“Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zhalim (merugikan) dan tidak dizhalimi (dirugikan).” [Al-Baqarah:279].

In syaa Allah bersambung…
•┈┈➖•◈◉✹❒📚❒✹◉◈•➖┈┈•

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

✍Ustadz Abu Salman Al-Kwasayni حفظه الله تعالى.

🌍 Di Bumi Allah NURUL UMMAH ISLAMIC SCHOOL, Kamis 07 Sya’ban 1438 H.

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *