PERSATUAN SEMU

Nampaknya orang-orang yang saling membantu dalam dosa, mereka terlihat bersatu padu.

Nampaknya orang-orang yang saling membantu dalam permusuhan, mereka terlihat akur, damai, saling mencintai.

Semuanya adalah persatuan semu, tipu daya syaithon.

Karena siapapun yang saling membantu dalam dosa dan permusuhan, maka hakikatnya mereka saling membenci sesama mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:

‏«والنَّاس إذا تعاونوا على الإثم
والعدوان أبغض بعضهم بعضاً»
“Dan manusia jika mereka saling membantu dalam dosa dan permusuhan, maka aslinya sebagian mereka membenci sebagiannya.”
‏مجموع الفتاوى (١٢٨/١٥)

Lihatlah para Ulama …!, mereka adalah teladan yang baik dalam masyarakat. Mereka adalah figur-figur yang paling layak untuk hidup rukun dan bersatu padu, sebab perpecahan di antara mereka akan memicu perpecahan di tubuh kaum muslimin.

Para Ulama terkadang berbeda pendapat, mereka juga terkadang berselisih, namun mereka tidak berpecah. Di saat bertemu mereka tulus saling memuji dan berpelukan.

Lihatlah kita sekarang…!

Apa benar kita benar-benar mengikuti para Ulama Salafhus Sholih?.

Kita sulit untuk Tabayyun. Sementara Allah dan Rosul-Nya memerintahkan untuk Tabayyun dan melarang berkata dusta atau menjadi saksi yang dusta.

Nabi ﷺ Bersabda:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قَالَ قَوْلُ الزُّورِ أَوْ قَالَ شَهَادَةُ الزُّورِ
“Maukah kalian aku beritahukan tentang dosa besar yang paling besar, lalu beliau menjelaskan, berkata dusta atau kesaksian dusta”. (Mutaffaqun ‘Alaihi)

Kita sulit untuk ‘Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Sementara yang dinamakan sebagai kebaikan adalah adanya:
1⃣ ‘Amar Ma’ruf
2⃣ Nahi Munkar.

Dua pilar ini harus ada, jika sesuatu itu disebut sebagai kebaikan. Dan orang-orang yang melakukan ‘Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, maka merekalah orang-orang yang beruntung.

Allah berfirman:

(وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ)
Dan wajib tetap ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” [Al-Imran:104]

Mudah untuk menyebarkan berita yang miring, sulit untuk menyebarkan berita yang baik. Sementara Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al-Hujraat: 6].

Ustadz Abu Salman Al-Kwasayni حفظه الله

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *