Nasihat untuk para penyelenggara kajian (Bersyukur)

Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

« من لم يشكر الناسَ ، لم يشكر اللهَ »
وفي رواية : « لا يشكر اللهَ ، من لا يشكر الناسَ

“Barangsiapa yang tidak berterima kasih (kepada orang yang telah memberikan sesuatu),
maka orang tersebut adalah hamba yang belum bersyukur kepada Allah.”

Dalam riwayat lain: “Tidaklah seorang disebut sebagai hamba yang bersyukur kepada Allah,
siapa saja yang tidak berterima kasih kepada manusia.” [صحيح الجامع:6541 و7719]

Hukum bersyukur atas nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita semua adalah wajib.

Dan tidaklah seorang hamba bisa bersyukur kepada Allah, jika dia belum atau bahkan sama sekali tidak berterima kasih kepada orang yang memberikan sesuatu kepada dirinya.

Jika sekecil apapun pemberian kepada diri kita, maka wajib bagi kita untuk terima kasih kepada yang telah memberikan.

Tentu orang yang telah mengajarkan ilmu agama kepada kita itu lebih wajib untuk diucapkan terima kasih, baik dengan lisan, hati, sikap, pembelaan.

Minimal kita mendoakan ampunan dan kebaikan untuk orang-orang yang telah mengajarkan ilmu.

Karena jasa orang yang mengajarkan ilmi agama kepada kita semua, kita tidak akan mampu membalas dengan apapun juga, walaupun jika kita memberikan seluruh harta kepada yang telah berjasa dalam urusan kebaikan mengajarkan agama, tidak akan terbayarkan sedikitpun juga dari jasa kebaikan mereka kepada kita semua.

Jangan sampai penyelenggara majelis ilmu tidak menghargai pemateri yang diundang dan kurang menghormatinya, karena penyelenggara majelis ilmu adalah wasilah kebaikan bukan untuk mengatur pematerinya. Baik isi materi, waktu, dan lain sebagainya, semua ini adalah adab dan akhlaq yang tercela kepada yang mengajarkan ilmu.

Begitu juga jangan sampai penyelenggara majelis ilmu tidak memperhatikan hak-haknya, karena beliau-beliau sudah meluangkan waktu dan bagaimana persiapan sebelum menyampaikan materi, terlebih lagi menempuh perjalanan yang terkadang mendapatkan halangan dan kesulitan dalam perjalanan menuju majelis yang beliau-beliau ampu, jangan sekali-kali mengurangi hak yang sudah menjadi haknya, baik pematerinya itu terkenal atau tidak serta kaitannya dengan adanya gelar atau tidak, maka jangan anda sebagai penyelenggara kajian sampai membedakan adab dan akhlaq serta hak-haknya  kepada mereka.

Jasa mereka tak bisa digantikan dengan apapun juga, apalagi penyelenggara kajian kita tidak memberikan apa-apa kepada orang yang mengajarkan ilmu agama, tentu sangat jauh rasa terima kasih kepada mereka, baik terima kasih kepada orang yang mengajarkan ilmu agama bahkan bersyukur kepada Allah.

Hendaknya para penyelenggara kajian itu belajar adab dan akhlaq sebelum mengadakan majelis ilmu. Dan jangan sampai penyelenggara kajian berlaku seperti bos kepada ustadz yang ia undang, yaitu tetap diundang jika materinya masih ia sukai, dan didepak jika sudah tak cocok dengan kemauanya.

Urusan dakwah itu yang mengetahui dan paham adalah pendakwahnya bukan penyelenggara, dan panitia itu hanya wasilah saja, jangan sampai merasa menguasai untuk memasukkan dan memberhentikan sesuai hawa nafsunya saja.

•┈┈•◈◉✹❒📖❒✹◉◈•┈┈•

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

 Ustadz Abu Salman Al-Kwasayni حفظه الله تعالى.

 Di bumi Allah Markaz Al-Kwasayni.

 TG: https://www.telegram.me/alkwasayni
www.al-kwasayni.com
Fb: bit.ly/2o6WTJY
Konsultasi: bit.ly/2CasI8X

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *