Nasihat itu lembut atau tegas?

Hukum asal nasihat adalah lemah lembut, begitu juga dalam berdakwah

Lalu bagaimana dengan nasihat atau dakwah yang tegas, apakah salah?

Dalam syariat Islam tidak ada satupun yang tak  dijelaskan, Islam adalah agama sempurna.

Kalau masalah buang hajat saja dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam apalagi tentang nasihat dan dakwah, pasti sudah dijelaskan.

Sikap lemah lembut atau tegas itu digunakan pada tempatnya.

Orang awam berhak untuk diberikan nasihat atau dakwah yang lembut.

Adapun orang yang sudah paham mereka berhak menerima nasihat atau dakwah dengan tegas, tentunya dengan tahapan lembut terlebih dahulu.

Setelah dilakukan tahapan-tahapannya dalam nasihat atau dakwah, namun tidak berubah dan tetap dalam kesalahannya bahkan membangkang, maka sikap tegaslah berhak untuk orang seperti ini.

Intinya nasihat dan dakwah bersifat taufiqiyah, yaitu harus berdasarkan dalil atau perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan pemahaman yang benar yaitu pemahaman para Sahabat.

Beliau Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang yang paling berakhlaq mulia.

Beliau lemah lembut kepada orang badui, walaupun secara kasat mata orang arab badui luar biasa kesalahannya.

Begitu juga Beliau tegas kepada para sahabat, yang mana mereka adalah orang yang Beliau cintai. Dalam hadits dari Ibunda ‘Aisyah bahwa akhlaq Beliau adalah Al-Qur’an;

كان خلقه القرآن

“Akhlaq Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah Al-Qur’an.” (HR.Muslim)

Jika Akhlaq beliau adalah Al-Qur’an, pertanyaannya adalah?.

lalu apakah didalam Al-Qur’an membahas akhlaq lemah lembut saja?.

Atau akhlaq tegas saja?.

Atau ada keduanya dalam Al-Qur’an?.

Tentu kita semua akan menjawab didalam Al-Qur’an terdapat akhlaq lemah lembut dan akhlaq tegas.

Oleh karena itu Akhlaq lemah lembut akan bernilai kebaikan jika dilakukan untuk yang berhak untuk disikapi lemah lembut ,begitu juga sikap tegas.

Lemah lembut harus ada dalilnya.

Tegas juga harus ada dalilnya.

Agama bukan dengan landasan perasaan atau akal pribadi kita semua

Agama adalah dengan ilmu,dan ilmu agama adalah dalil, dan dalil dalam agama adalah Al-Qur’an dan As-Sunah di atas pemahaman para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Bukan Al-Qur’an dan As Sunnah yang harus mengikuti perasaan atau akal kita.

Yang benar adalah seluruh perasaan dan akal manusia harus tunduk disertai ta’at kepada aturan Al-Qur’an dan As Sunnah.

المجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله

“Seorang mujahid adalah orang yang melawan hawa nafsunya (kemauan perasaan dan akalnya) untuk tunduk dan ta’at kepada aturan Allah.” (HR.Muslim)

•┈┈•◈◉✹❒📖❒✹◉◈•┈┈•

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

 Ustadz Abu Salman Al-Kwasayni حفظه الله تعالى.

 Di bumi Allah Markaz Al-Kwasayni.

 TG: https://www.telegram.me/alkwasayni
www.al-kwasayni.com
Fb: bit.ly/2o6WTJY
Konsultasi: bit.ly/2CasI8X

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *