Nasihat atau saran?

Yang disebut nasihat itu dari atas ke bawah, terlebih umurnya tua dan tua ilmunya juga. Jika tidak ada dua-duanya, maka yang dipandang adalah ilmunya.

Dan wajib menerima jika nasihat itu isinya dalil dari Al-Qur’an ataupun dari hadits diatas pemahaman sahabat.

Siapapun yang menasehati …!!

Dengan syarat melihat saudara muslim yang lain robek bajunya (melakukan kesalahan), jika tidak ada maka tidak boleh memberi nasihat.

Masukan atau saran itu adalah dari bawah keatas, baik umur atau ilmunya. Terlebih masukan atau saran kepada guru-guru yang sedang diambil ilmu, maka wajib berhati-hati, berakhlaq dan beradab.

Haram hukumnya jika rencana memberikan masukan atau saran, sampai diperdengarkan atau terdengar oleh muslim / jamaah yang lain.

Karena masuknya ilmu dan bertambah berkahnya ilmu, salah satu sebab terbesarnya adalah beradab kepada guru-guru yang mengajarkan ilmu agama.

Baik sebelum berangkat belajar, proses belajar, dan yang terpenting adalah setelah pulang dari belajar,karena guru-guru kita tidak ada dihadapan kita sehingga lebih wajib dalam menjaga adab dan kehormatan guru kita.

Antara hukum nasihat dan saran berbeda.

1. Jika nasihat yang berlandaskan dalil wajid segera dikerjakan.

2. Namun saran adalah dipertimbangkan dengan dalil terlebih dahulu.

Dan saran dilakukan dengan cara bertanya, bukan dengan jalan langsung keguru-guru kita seperti dengan nada menasehati secara langsung.

Karena saran dengan nada langsung menasehati adalah termasuk adab dan akhlaq yang tercela

Maka menjaga hati, lisan, sikap dan lain lain kepada guru-guru kita adalah kewajban.

Siapa saja yang melanggar maka telah melakukan dosa besar setelah dosa syirik.

Karena mereka yang telah berjasa kepada kita.

Dan karena mereka adalah pewaris para Nabi.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah berkata:

إن اغتباب العالم أكبر و أكبر

“Sesungguhnya menjatuhkan kehormatan orang yang berilmu adalah benar-benar dosa besar”. (Kitabul ‘ilmi)

Termasuk menjatuhkan kehormatan orang yang berilmu adalah berprasangka buruk, menyamakan diri dengan guru-guru kita, rencana memberikan saran kepada guru kita atau akan memberikan saran namun diperdengarkan kepada muslim yang lain, tidak langsung membela jika guru terdholimi, dan seluruh perbuatan yang mendatangkan murkanya Allah.

Semoga menjadi renungan terkhusus untuk yang menulis dan siapa saja yang membaca renungan ini. Amiin…

•┈┈•◈◉✹❒📖❒✹◉◈•┈┈•

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

 Ustadz Abu Salman Al-Kwasayni حفظه الله تعالى.

 Di bumi Allah Markaz Al-Kwasayni.

 TG: https://www.telegram.me/alkwasayni
www.al-kwasayni.com
Fb: bit.ly/2o6WTJY
Konsultasi: bit.ly/2CasI8X

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *