Meraih kebahagiaan hakiki

Setiap manusia yang ada di muka bumi ini pasti ia ingin meraih kebahagiaan. Namun tahukah diri kita bahwa kebahagiaan itu ada 2;

1⃣ Kebahagiaan yang semu (palsu).

2⃣ Dan kebahagiaan yang asli atau hakiki.

💔 Adapun kebahagiaan yang semu apa yang terkandung dalam firman Allah Ta’ala:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2) كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3) ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (4) كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (5) لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6) ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (7) ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (8)

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (At-Takatsur: 1-8).

Surat ini menjelaskan tentang manusia yang lalai dari beridabah kepada Allah dan terjebak dengan berbangga-banggaan dengan harta serta keturunannya.

‘Ilmu Yakin, ‘Ainul Yakin dan Haqqul Yakin

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya mengenai ‘ainul yakin dan ilmu yakin. ‘Ilmu yakin adalah sesuatu yang diketahui dengan mendengar, kabar berita, pengqiyasan (permisalan) dan berpikir tanpa melihat secara langsung. Sedangkan ‘ainul yakin adalah menyaksikan langsung dengan penglihatan. Ada juga haqqul yakin, yaitu dengan merasakan secara langsung.

Ibnu Taimiyah memberikan contoh ketiga hal di atas dengan memberi permisalan madu. Jika madu tersebut hanya diketahui lewat berita, maka disebut ‘ilmu yakin. Jika diketahui lewat melihat langsung, maka disebut ‘ainul yakin. Jika dirasakan manisnya madu tersebut, maka disebut dengan haqqul yakin.

Begitu juga ilmu agama yang telah sama-sama kita ketahui keutamaan serta kemuliaannya.

💚 Adapun kebahagiaan yang hakiki apa yang terkandung dalam firman Allah Ta’ala:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl:97)

1⃣ Maka sebab yang pertama untuk mendapat kebahagiaan yang hakiki adalah ilmu (menuntut ilmu).

2⃣ Tumbuh dan selalu bersama dengan ilmu.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Imam yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, seorang yang hatinya bergantung ke masjid, dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (Mutaffaqun ‘alaihi)

3⃣ Memiliki iman yang benar sebagaimana dijelaskan dalam hadist Jibril.

4⃣ Memiliki ketaqwaan yang benar.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari seorang diri.” (An-Nisa`:1)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran:102)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Al-Hasyr:18)

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُواْ اللّهَ

“Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan (juga) kepada kalian, yaitu bertakwalah kalian kepada Allah.” (An-Nisa`:131)

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Maidah:27)

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3)

يِا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إَن تَتَّقُواْ اللّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَاناً

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, Dia akan memberikan kepadamu furqan (pembeda).” (Al-Anfal: 29)

تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَن كَانَ تَقِيًّا

“Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” (Maryam:63)

وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa.” (Asy-Syu’ara`:90)

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Inilah kitab (Al-Quran) yang tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (Al-Baqarah:2)

5⃣ Memiliki syukur dan sabar.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ.

“Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang mukmin. Jika diberi sesuatu yang menggembirakan, ia bersyukur, maka hal itu merupakan kebaikan baginya, dan apabila ia ditimpa suatu keburukan (musibah) ia bersabar, maka hal itu juga baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

6⃣ Menjaga lisan.

Betapa senangnya jika seorang hamba mampu untuk beribadah dengan baik, bahkan juga menambah ibadah yang sunnah-sunnah.

Semua dilakukan karena Allah dengan mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Namun pahamkah kita? Bahwa semua yang dikerjakan tidak akan membawa manfaat jika kita tidak menjaga lisan.

قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ قَالَ أَخْبَرَنِي الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي يَحْيَى مَوْلَى جَعْدَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِي النَّارِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا وَصَلَاتِهَا وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنْ الْأَقِطِ وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِي الْجَنَّةِ

Berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Usamah berkata; telah mengabarkan kepadaku Al A’masy dari Abu Yahya mantan budak Ja’dah dari Abu Hurairah berkata; Seorang lelaki berkata; “Wahai Rasulullah, ada seorang wanita yang terkenal dengan banyak shalat, puasa dan sedekah, hanya saja ia menyakiti tetangganya dengan lisannya, ” maka beliau bersabda: “Dia di neraka.” Lelaki itu berkata; “Wahai Rasulullah, ada seorang wanita yang terkenal dengan sedikit puasa, sedekah dan shalatnya, ia hanya bersedekah dengan sepotong keju, tetapi ia tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya, ” maka beliau bersabda: “Dia di surga.” (HR.Ahmad, No.9298)

Seorang hamba disebut baik di mata manusia dalam pandangan khalayak ramai, karena dirinya rajin ibadah dari shalat, puasa, shadaqoh, dan lain sebagainya.

Bahkan dirinya menjauhkan dari dosa riba; tidak utang di bank, tidak KPR rumah yang riba, menyicil mobil atau motor, tidak ikut asuransi.

Namun lagi-lagi apa kita sudah paham?, bahwa ada riba yang paling tinggi dari semua itu.

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

أربى الربا عرض الرجل المسلم

“Riba yang paling besar adalah apabila seseorang menghancurkan kehormatan muslim yang lain”. (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)

Sering kali kita mendengar bahwa mulutmu harimaumu maksudnya adalah apa yang disampaikan lisan akan ada resikonya.

Dan kebanyakan cek cok dan perselisihan yang terjadi itu disebabkan dengan lisan yang tidak terjaga.

عن مُعَاذِ بنِ جَبَلٍ قَالَ: «كُنْتُ مَعَ النبيّ صلى الله عليه وسلم في سَفَرٍ فَأَصْبَحْتُ يَوْماً قَرِيباً مِنْهُ وَنَحْنُ نَسِيرُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ الله أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُني الْجَنّةَ وَيُبَاعِدُنِي عنِ النّارِ, قَالَ: «لَقَدْ سَأَلْتَنِي عَنْ عَظِيمٍ وَإِنّهُ لَيَسِيرُ عَلَى مَنْ يَسّرَهُ الله عَلَيْهِ: تَعْبُدُ الله وَلاَ تُشْرِكْ بِهِ شَيْئَاً, وَتُقِيمُ الصّلاَةَ, وَتُؤْتِي الزّكَاةَ, وَتَصُومُ رَمَضَانَ, وَتَحُجّ الْبَيْتَ, ثُمّ قَالَ: أَلاَ أَدُلّكَ عَلَى أَبْوَابِ الخَيْرِ: الصّوْمُ جُنّةٌ, وَالصّدَقَةُ تُطْفِىءُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِىءُ المَاءُ النّارَ, وَصَلاَةُ الرّجُلِ مِنْ جَوفِ الّليْلِ,

قَالَ: ثُمّ تَلاَ {تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ المَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبّهُمْ} حَتّى بَلَغَ {يَعْمَلُونَ} ثُمّ قَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ كُلّهِ وَعَمُودِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ: قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ الله قَالَ: رَأْسُ الأَمْرِ الاْسْلاَمُ, وَعُمودُهُ الصّلاَةُ, وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ. ثمّ قَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمِلاَكِ ذَلِكَ كُلّهِ, قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ الله, قَالَ: فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ, قَالَ: كُفّ عَلَيْكَ هَذَا. فَقُلْتُ: يَا نَبِيّ الله وَإِنّا لَمُؤَاخَذُونَ بمَا نَتَكَلّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ أمّك يَا مُعَاذُ, وَهَلْ يَكُبّ النّاسَ في النّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ, أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ, إِلاَ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ». قال أبو عِيسَى: هَذا حديثٌ حسنٌ صحيحٌ.

Dari Mu’adz bin Jabal Radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Dalam suatu perjalanan, pernah aku bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Pada suatu hari saat sedang berjalan-jalan, aku mendekat kepadanya, lalu berkata, Wahai Rasulullah, informasikan kepadaku akan suatu amalan yang dapat menyebabkan aku masuk surga dan jauh dari neraka.”

Beliau menjawab, “Engkau telah menanyakan suatu perkara yang amat besar namun sebenarnya ringan bagi orang yang dimudahkan oleh Allah; hendaklah kamu menyembah Allah dan tidak berbuat syirik terhadap-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadlan dan melakukan haji.”

Kemudian Beliau bersabda lagi, “Maukah kamu aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan; puasa merupakan penjaga (pelindung) dari api neraka, sedekah dapat memadamkan kesalahan (dosa kecil) sebagaimana air dapat memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam seraya membaca ayat ‘Tatajaafa Junuubuhum ‘Anil Madlaaji’i yad’uuna rabbahum…. [hingga firman-Nya]… Ya’maluun.’ (as-Sajdah:16). Kemudian Beliau juga mengatakan,
“Dan maukah kamu aku tunjukkan kepala (pangkal) semua perkara, tiang dan puncaknya.?”
Aku menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.!”

Beliau bersabda,
“Kepala (Pangkal) dari semua perkara itu adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad.” Kemudian beliau bersabda lagi,  “Maukah kamu aku tunjukkan pilar dari semua hal itu.?” Aku menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.!” Lalu beliau memegang lisan (lidah) nya seraya berkata,  “Jagalah ini olehmu.”Lantas aku bertanya, “Wahai Nabiyyullah, apakah kami akan disiksa atas apa yang kami bicarakan.?” Beliau bersabda,  “Celakalah engkau wahai Mu’adz! Tidakkah wajah dan leher manusia dijerembabkan ke dalam api neraka kecuali akibat apa yang diucapkan lidah-lidah mereka.?” (HR.Tirmidzi, dia berkata, “Hadits Hasan Shahih”)

Seorang muslim dikatakan dirinya sebagai muslim sejati apabila dirinya menjaga lisan dari menuduh saudaranya, mengadu domba, menyinyir amal saudaranya, merendahkan saudaranya, menghasud. Maka semua ini adalah kejahatan lisan yang mana akan dipertanggung jawabkan dari apa yang keluar dari lisan. Sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah muslim yang lain selamat dari kejahatan lisan dan tanganya.” (HR.Muslim)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berwasiat sebelum meninggalnya beliau, dan perlu diketahui dan dicamkan baik-baik, bahwa seorang yang berwasiat sebelum meninggalnya maka yang diwasiatkannya itu pasti hal penting. Apa lagi wasiat ini adalah wasiat dari Nabi yang mulia, maka hukumnya wajib untuk menjalankan wasiat beliau.

Apa wasiatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?.

ابن عباس رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ النَّاسَ يَوْمَ النَّحْرِ فَقَالَ: (( يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ قَالُوا: يَوْمٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَأَيُّ بَلَدٍ هَذَا؟ قَالُوا: بَلَدٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَأَيُّ شَهْرٍ هَذَا؟، قَالُوا: شَهْرٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا ، فَأَعَادَهَا مِرَارًا ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ ، اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ – قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَوَصِيَّتُهُ إِلَى أُمَّتِهِ – فَلْيُبْلِغِ الشَّاهِدُ الغَائِبَ ، لاَ تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ )) رواه البخاري .

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hari Idul Adha. Beliau bersabda: “Wahai manusia, hari apakah ini? Mereka menjawab: “Hari ini hari haram (suci)”. Nabi bertanya lagi: “Lalu negeri apakah ini?”. Mereka menjawab: “Ini tanah haram (suci)”. Nabi bertanya lagi: “Lalu bulan apakah ini?”. Mereka menjawab: “Ini bulan suci”.

Beliau bersabda: “ *Sesungguhnya darah kalian, harta-harta kalian dan kehormatan kalian, adalah haram atas sesama kalian. Sebagaimana haramnya hari kalian ini di negeri kalian ini dan pada bulan kalian ini”. Beliau mengulang kalimatnya ini berulang-ulang lalu setelah itu Beliau mengangkat kepalanya seraya berkata: “Ya Allah, sungguh telah aku sampaikan hal ini. Ya Allah, sungguh telah aku sampaikan hal ini.” Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: “Maka demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh wasiat tersebut adalah wasiat untuk ummat beliau”.

Nabi bersabda: “Maka hendaknya yang hari ini menyaksikan dapat menyampaikannya kepada yang tidak hadir, dan janganlah kalian kembali kepada kekufuran sepeninggalku, sehingga kalian satu sama lai saling membunuh”. (HR. Al Bukhari).

Wasiat Nabi adalah kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap umatnya yang mengaku mencintai dan mengikuti beliau, yaitu wasiat untuk menjaga darah (nyawa), harta, dan kehormatan.

Kebanyakan dari manusia akan takut untuk membunuh dan mencuri harta orang lain karena ada sanksi hukum yang ada negaranya, namun tidak sedikit yang berani melanggar wasiat Nabi yang ke tiga yaitu menjaga kehormatan muslim yang lain. Jika takutnya menghancurkan kehormatan muslim yang lain sama dengan takutnya melakukan pembunuhan dan pencurian, maka terjagalah kebaikan-kebaikan yang ada.

Seorang yang pernah menuduh saudaranya tanpa hak dan menjatuhkan kehormatannya, jika dirinya taubat dari kejahatan lisannya maka tidak cukup ia menyesal dan taubat kepada Allah saja, akan tetapi ia masih punya kewajiban menjelaskan kesalahan yang dia telah dia lakukan kepada orang-orang yang pernah dia hasud atau dipengaruhi dengan lisan jahatnya.

Sebab seorang yang dihancurkan kehormatannya telah merasakan kepahitan dan kegetiran muamalah karena sebab jahatnya lisan yang menghancurkan kehormatannya, dirinya harus dikembalikan dan dipulihkan nama serta kehormatannya, jika hal ini tidak dilakukan oleh orang yang pernah menghancurkan kehormatan hamba yang lain, maka menyesalnya itu tidak dibenarkan. Karena apa yang ia telah lakukan akan mendapatkan transferan dosa dari orang-orang yang pernah dihasud dan dipengaruhinya.

Apakah diri kita tidak takut dengan resiko jahatnya lisan dan menjatuhkan serta menghancurkan nama baik kehormatan muslim yang lain.

8⃣ Menjaga kemuliaan dengan menyempurnakan agama.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ، فَقَدِ اسْـتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْـنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِيْمَـا بَقِيَ

“Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya; oleh karena itu hendaklah ia bertaqwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa.” (Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab ash-Shahiihah:625)

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

‘Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).” (HR. Al-Bukhari:5066)

مَنْ وَقَاهُ اللهُ شَرَّ اثْنَيْنِ وَلَجَ الْجَنَّةَ: مَـا بَيْنَ لَحْيَيْهِ، وَمَـا بَيْـنَ رِجْلَيْهِ

“Barangsiapa yang dipelihara oleh Allah dari keburukan dua perkara, niscaya ia masuk Surga: Apa yang terdapat di antara kedua tulang dagunya (mulutnya) dan apa yang berada di antara kedua kakinya (kemaluannya).” (HR. At-Tirmidzi:2411)

9⃣ Bersikap seperti sifat para Sahabat Radhiallahu ‘anhum.

Kenapa para sahabat dipuji dan wajib diikuti jalannya?. Karena mereka orang-orang yang diridhoi oleh Allah, dan mereka ridho kepada Allah.

Sifat mereka juga akhirat di hati mereka dan dunia di tangan mereka.

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *