WAHAI SUAMI YANG SHALIH, PENDIDIKAN ANAK-ANAKMU DAN ANTAR JEMPUTNYA ADALAH KEWAJIBANMU

Anak adalah anugerah dari Allah Azza wa Jalla.

Setiap pasangan suami istri mendambakan lahirnya anak-anak mereka sebagai penyejuk pandangan orang tua.

Namun tahukah kita bahwa anak mempunyai hak yang harus mereka dapatkan.

Nabi ﷺ bersabda:

“إذا بلغ أولادكم سبع سنين ففرقوا بين فرشهم، وإذا بلغوا عشر سنين فاضربوهم على الصلاة”
“Jika Anak-anak kalian sudah berusia tujuh tahun, maka pisahkan tempat tidur mereka, dan jika mereka telah sampai sepuluh tahun maka pukullah atas mereka untuk shalat (jika mereka susah untuk shalat).”

قال المحدث الألباني : صحيح

Berkata Syaikh Al-bany: Hadits Shohih
📚صحيح أبي داود – 508
📚صحيح الجامع – 418

Salah satu dari hak anak adalah dipisahkan tempat tidurnya disaat masuk umur tujuh tahun.

Dan hak terbesar anak adalah mendapatkan pendidikan dari orang tuanya, salah satu yang paling besarnya hak anak-anak dalam mendapatkan pendidikan adalah tentang shalat.

Orang tua mencarikan tempat pendidikan untuk anak-anaknya, dan yang berhak menetapkan dimana seorang anak akan sekolah adalah seorang ayah bukan ibunya.

Seorang ibu atau istri memiliki hak memilih tempat pendidikan anak-anaknya, namun tidak berhak untuk menetapkan dimana anak-anaknya akan sekolah, karena hal ini adalah hak suaminya atau seorang bapak dari anak-anaknya.

Karena kaum laki-laki adalah yang memimpin, bukan wanita yang memimpin.

Allah berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ
“Kaum laki-laki adalah pemimpinnya bagi para wanita.” [An-Nisa’: 3]

Jika pendidikan anak yang menentukan seorang istri, karena alasan bahwa ia yang mengantar dan menjemputnya, maka suaminya telah keliru. Jika seorang istri menjadi penentu anaknya mau sekolah dimana sesuai apa yang ia sukai, maka jangan berharap banyak anak-anakmu menjadi shalih atau shalihah.

Suami adalah yang bertanggung jawab untuk menentukan dimana anaknya sekolah, dan pilihannya tersebut bukan karena permintaan istrinya, namun karena ilmunya dan mengecek kwalitas pendidikannya. Jangan seperti orang awam yang ditelitinya hanya gedung dan ramainya murid yang ada di dalamnya, namun telitilah kwalitas pengajar dan hasil pencampaiannya, karena hakikat ia menentukan sekolah anak-anakmu, maka kepala rumah tangga adalah istrimu, meskipun engkau yang mencari nafkah.

Jika dirimu wahai suami atau ayah hanya melihat sebuah lembaga dari ramainya murid yang ada di dalamnya, maka hal ini akan membahayakan kwalitas belajar anak-anakmu. Karena di negara-negara yang pendidikannya maju atau sekolahan berkurikulum internasional dalam satu kelas saja maximal hanya 10 anak, bahkan kebanyakan dalam satu kelas hanya 7 murid saja. Bukan karena tidak laku sekolahnya, namun kwalitas pendidikan juga ditentukan dari berapa jumlah murid yang ditangani dan dibimbing oleh seorang guru atau ustadz yang mengasuhnya.

Banyak dari kalangan kaum muslimin menginginkan pendidikan Islami, namun yang dicari keliru yaitu gedung dan fasilitasnya dulu serta ijazahnya, bukan yang utama ditanya berkaitan kwalitas gurunya bagaimana dan jumlah murid yang ada dalam satu kelas, karena ini juga sangat menentukan suksesnya tidaknya pendidikan anak-anak anda wahai suami atau ayah.

Wahai suami, jangan sekolahkan anak-anakmu karena rumahmu dekat dengan sekolah, namun sekolahkanlah mereka karena Allah.

Menitipkan atau menyekolahkan anak itu dua kata yang berbeda.

Jika anda ingin menitipkan anak, maka jangan dititipkan di sekolah, karena sekolah bukan tempat penitipan.

Jika anda ingin menyekolahkan anak, maka kerjasamalah kepada pihak sekolah, jangan hanya sekedar membayar bulanan saja bahkan terkadang terlambat lalu masa bodo dengan program sekolah dan memantau perkembangan anak, maka ini adalah kekeliruan yang nyata.

Ada nasehati dari pihak sekolah hanya diiyakan saja, namun tak dijalankan.

Ada program sekolah yang seharusnya dijalankan, namun hanya jadwalnya yang terpampang di tembok rumahmu saja.

Jika ada berita buruk tentang sekolah atau guru yang mengajarkan anakmu, dirimu tak melakukan tabayyun (mencari kejelasan) ke pihak sekolah secara langsung, namun dirimu malah lebih percaya dengan berita yang simpang siur di luaran.

Lalu bagaimana anakmu mampu membanggakanmu dengan prestasi belajar mereka?, jika dirimu saja menaruh rasa curiga kepada pihak sekolah atau guru yang mengajar di dalamnya.

Bagaimana anakmu akan menjadi shalih dan shalihah?, jika dirimu lebih percaya berita miring dari luar dan permintaan istrimu yang mengikuti kebanyakan orang.

Ingatlah istrimu itu dari tulang yang bengkok, seharusnya dialah yang mengikuti dan menaatimu, bukan malah sebaliknya.

Di akhir zaman dan fitnah ini banyak dari laki-laki yang mengikuti kemauan istrinya bab masalah pendidikan anak-anaknya, sementara hal itu adalah kewajiban dan sekaligus haknya sebagai seorang suami atau ayah dari anak-anaknya.

Kepimpinanmu akan dipertanyakan dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, maka jangan sampai salah dirimu, dari memimpin keluargamu khususnya dalam hal pendidikan untuk anak-anakmu.

Istrimu bukanlah ma’sum (terbebas dari kesalahan)…

Istrimu bukanlah pemimpin di dalam rumah tanggamu…

Istrimu bukanlah tukang ojeg yang harus antar jemput anak-anakmu sekolah…

Istrimu bukanlah Ibunda ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha yang berilmu dan cerdas…

Oleh karenanya, dudukanlah siapa dirimu dan dirinya, jangan sampai ketukar…

Dunia ini tak akan lama, semua akan kembali ke kampung halaman yang sesungguhnya yaitu akhirat…

Pendidikan anak-anakmu itu untuk mencari bekal ke akhirat, bukan untuk kemauan istrimu…

Betapa banyak kerusakan dan ikhtilaf yang terjadi disebabkan karena engkau wahai suami lebih mendengarkan aduan istri daripada menerapkan nasihat pihak sekolah dan dalil yang benar serta merta membenarkan istrimu…

Dirimu itu laki-laki, yang mana Allah melebihkan akalmu dan kekuatanmu dibandingkan istrimu…

Masa dirimu mengikuti kemauan seorang yang kurang agama dan akalnya?…

Engkau meninggalkan ilmu dan mengamalkan kewajibanmu sebagai seorang muslim yaitu “Tabayyun”, dan tabayyun itu dengan dirimu wajib datang langsung kepada seorang atau pihak lembaga yang sedang terfitnah, bukan malah percaya dengan berita miring yang tak ada dasarnya…

Wahai suami atau ayah, dirimu adalah pria bukan wanita…

Sehingga jadilah laki-laki sejati dengan terus menuntut ilmu dan mengamalkannya…

Karena mendidik keluarga adalah tanggung jawabmu, adapun sekolah atau pesantren hanya membantu memperingan tugasmu, jika dirimu mau kerjasama dalam kebaikan untuk anak keturunanmu…

Semoga renungan dan nasihat ini terbaca olehmu wahai suami yang baik dan mau berubah bukan malah lari karena terlanjur malu…

Semoga Allah menjagamu dan meneguhkan lisan serta hatimu menuju jalan yang diridhai Rabbmu…

 

Ditulis oleh Ustadz Abu Salman Al-Kwasayni حفظه الله

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *