Konsultasi : Makmum Masbuk

PERTANYAAN

Assalamu’alaikum.
Maaf Ustadz saya mau bertanya apabila dalam sholat berjamaah ketika menjadi masbuk kemudian ingin sholat berjamaah kepada seseorang yang mendapati jamaah tinggal satu rakaat. Ketika imam salam, dia pun berdiri dan menyempurnakan kekurangan rakaatnya. Ketika itu, datang jamaah lainnya dan shalat bersamanya (menjadi makmum). Apakah mengikuti makmum yang masbuk semacam ini dibolehkan?”

Syukran, Jazaakallahu khair

Abu Akhdan – Cibitung
08131621xxxx

JAWABAN

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله pernah ditanya:

عَنْ رَجُلٍ أَدْرَكَ مَعَ الْجَمَاعَةِ رَكْعَةً فَلَمَّا سَلَّمَ الْإِمَامُ قَامَ لِيُتِمَّ صَلَاتَهُ فَجَاءَ آخَرُ فَصَلَّى مَعَهُ فَهَلْ يَجُوزُ الِاقْتِدَاءُ بِهَذَا الْمَأْمُومِ؟

“Ada seseorang yang mendapati jamaah tinggal satu rakaat. Ketika imam salam, dia pun berdiri dan menyempurnakan kekurangan rakaatnya. Ketika itu, datang jamaah lainnya dan shalat bersamanya (menjadi makmum). Apakah mengikuti makmum yang masbuk semacam ini dibolehkan?”

Jawaban beliau رحمه الله:

Mengenai shalat orang yang pertama tadi ada dua pendapat di madzhab Imam Ahmad dan selainnya. Akan tetapi pendapat yang benar, perbuatan semacam ini dibolehkan. Inilah yang menjadi pendapat kebanyakan ulama.

Hal yang dipertanyakan diperbolehkan dengan syarat orang yang diikuti merubah niatnya menjadi imam dan yang mengikutinya berniat sebagai makmum.

Namun jika orang yang mengikuti (yang telat datangnya tadi) berniat untuk mengikuti orang yang sudah shalat bersama imam sebelumnya (makmum masbuk), sedangkan yang diikuti tersebut tidak berniat menjadi imam, maka di sini ada dua pendapat mengenai kesahan shalatnya:

Pendapat ke 1:

Shalatnya sah sebagaimana pendapat Imam Asy Syafi’i, Imam Malik dan selainnya. Pendapat ini juga adalah salah satu pendapat dari Imam Ahmad.

Pendapat ke 2 :

Shalatnya tidak sah. Inilah pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad. Alasan dari pendapat kedua ini, orang yang menjadi makmum pertama kali untuk imam pertama (makmum masbuk), setelah imam salam, maka ia statusnya shalat munfarid (sendirian).

Lalu mengenai makmum masbuk tadi yang menyelesaikan shalatnya, semula ia shalat munfarid, ia boleh merubah niat menjadi imam bagi yang lain sebagaimana Nabi ﷺ pernah menjadi imam bagi Ibnu Abbas tatkala sebelumnya beliau niat shalat sendiri. Seperti ini dibolehkan dalam shalat sunnah sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas tersebut. Hal ini pun menjadi pendapat Imam Ahmad dan ulama lainnya.

Namun disebutkan dalam madzhab Imam Ahmad suatu pendapat yang menyatakan bahwa seperti ini dalam shalat sunnah tidak dibolehkan.

Sedangkan mengikuti shalat makmum masbuk dalam shalat fardhu, maka di sini terdapat perselisihan yang masyhur di kalangan para ulama.

Akan tetapi, yang benar adalah bolehnya hal ini dalam shalat fardhu maupun shalat sunnah karena yang diikuti menjadi imam dan itu lebih banyak daripada kedaannya shalat munfarid. Oleh karena itu, mengalihkan dari shalat sendirian menjadi imam, itu tidaklah terlarang sama sekali. Berbeda halnya dengan pendapat pertama tadi (yang menyatakan tidak bolehnya).

الله أعلم
مجموع الفتاوى (22/257-258)

•┈┈➖•◈◉✹❒📚❒✹◉◈•➖┈┈•

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

✍Ustadz Abu Salman Al-Kawasayni حفظه الله تعالى .

🌍 Bumi Allah, NURUL UMMAH Islamic School Sabtu 19 Jumadil Akhir 1438 H.

📷INSTAGRAM : Bersih.TV
🔵FB: Bersih
📹YOUTUBE : Bersih TV
🐦TWITTER : @BERSIH_TV
📪TELEGRAM : @berbaginasihat
🌎WEB : www.bersih.or.id
📱WA : Daftar Bersih Ketik
Nama#L/P#Alamat
Kirim 0857-7902-6345.
🔽Bersih di playstore android https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wBersih_4574773

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *