Cara Mendapatkan Akhlaq Yang Mulia

⏯ Materi Lanjutan

💎 Cara Mendapatkan Akhlaq Yang Mulia 💎
Telah kita jelaskan dalam pembahasan sebelumnya, bahwa akhlaq yang mulia bisa berupa sifat yang alami bawaan semenjak lahir dan bisa berupa sifat yang dapat diusahakan atau diupayakan dengan jalan belajar agama dan terus berlatih untuk berakhlaq mulia, contohnya seperti Sahabat yang mulia ‘Umar bin Khatab.
Dan juga telah kita sebutkan sebelumnya di awal-awal pembahasan dalil yang menunjukan akan hal ini, yaitu sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada Asyajj bin ‘Abdul Qais:

بل جبلك االله عليهما

” Allah-lah yang telah mengaruniakan keduanya padamu”.

Dan begitu pula, karena akhlaq mulia yang bersifat alami tidak akan bisa hilang dari seseorang, sedangkan akhlaq yang dihasilkan dengan cara membiasakannya bisa saja terlewat dari seseorang dalam situasi dan kondisi tertentu. Karena orang tersebut memerlukan kebiasaan, kerja keras, latihan dan kesungguhan.

Dan terkadang ia juga perlu mengingat-ingatnya lagi ketika terjadi hal-hal yang dapat membangkitkan emosinya.

Untuk itu ada seorang pemuda datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lalu berkata: Wahai Rasulullah, beri aku nasehat, beliau menjawab:

لا تغـضب

“Janganlah engkau marah”, kemudian beliau terus mengulanginya seraya berkata:
“Janganlah engkau marah”. [16]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda:

ليس الشديد بالصرعة , إنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب

” Bukanlah orang yang kuat itu yang menang dalam bertarung, akan tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika sedang marah”. [17]

Arti “Ash-Shur’ah” adalah orang yang bertarung atau bergulat dengan lawannya. Seperti kata “Humazah” dan “Lumazah”. Adapun “Humazah” artinya yang suka mengumpat atau memaki orang, sedangkan “Lumazah” artinya yang suka mengejek orang lain dengan kedipan mata.

Maka, orang yang kuat bukanlah yang menang dalam bertarung dan mampu mengalahkan lawannya, akan tetapi “orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika sedang emosi”, dia mampu menguasai dan menahan dirinya pada saat sedang marah.

Dan kemampuan seseorang untuk mengendalikan dirinya ketika sedang marah termasuk akhlaq yang mulia.

Jika kita marah, janganlah anda menuruti kemarahan kita, akan tetapi segeralah memohon perlindungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dari setan yang terkutuk.

Jika kita berdiri maka duduklah, dan jika duduk maka berbaringlah.

Dan jika rasa marah kita semakin bertambah maka segeralah berwudhu sampai hilang dari anda rasa marah tersebut.

_______
[16] Dikeluarkan oleh Imam Bukhari, No.6114 di Kitaabul Adab¸ dan Tirmidzi, No.2020 di Kitaabul bir Wash Shilah.

[17] Dikeluarkan oleh Imam Bukhari, No.6114 di Kitaabul Adab, dan Imam Muslim, No.107di Kitaabul bir Wash Shilah

In syaa Allah bersambung…

•┈┈➖•◈◉✹❒📖❒✹◉◈•➖┈┈•

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

🖊 Ustadz Abu Salman Al-Kwasayni حفظه الله تعالى.

🌏 Di Bumi Allah LIMAN INDONESIA, Kamis 28 Sya’ban 1438 H.

🌐www.al-kwasayni.com
📪telegram.me/alkwasayni
🐦twitter.com/alkwasayni
🔵Fb: bit.ly/2o6WTJY
🖼Instagram: bit.ly/2p7rvbP
📹youtube: bit.ly/2odLKHL
📡Streaming: bit.ly/2o1B78B
📻Radio: 107.4 FM
♻WA : Daftar Al-Kwasayni Ketik
Nama#L/P#Alamat
Kirim 0821-1155-3775.
⁠⁠⁠
🌿🍃📚🌿🍃📚🌿🍃📚🌿🍃

جزاكم الله خيرا كثيرا

🚿 Jangan Lupa Share Ya ….!

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *