Bersabarlah dan beradablah wahai penuntut ilmu…!

Tidak ada seorang hamba di muka bumi ini luput dari kesalahan dan dosa, termasuk juga seorang yang berilmu. Sedalam apapun ilmunya, selembut apapun peringainya, atau bahkan sekeras apapun sikapnya kepada para muridnya, maka guru tetaplah guru yang berjasa mendidik kita semua dalam hal ilmu, jadi bersabarlah bersama mereka. Karena seorang murid yang sudah curiga terhadap gurunya maka ia termasuk orang yang durhaka.

Renungkan sikap Al Imam yahya bin Ma’in kepada gurunya yang telah menendang lehernya, beliau sangat beradab dan berakhlaq dan selalu mendoakan kebaikan serta menyebut-nyebutnya di majelisnya disaat beliau mengajarkan ilmu.

Lalu apa yang sudah engkau lakukan kepada gurumu wahai murid dan para penuntut ilmu?.

Apakah dirimu sudah ditendang seperti Al Imam Yahya bin Ma’in?.

Jangan sampai jasa gurumu itu engkau lupakan dengan durhakamu dengan berburuk sangka, berkata, dan bersikap tidak layak kepada mereka baik di depan maupun di belakang mereka.

Gurumu bukanlah Malaikat atau para Nabi yang tak luput dari dosa, maka jagalah lisan dan sikapmu, dan dirimu sebagai murid pasti lebih banyak kesalahan dari gurumu.

وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

“Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (Al Hujurot:12).

Sikap kepada orang lain seperti yang disebutkan dalam ayat diatas saja dilarang yaitu menghibah, mencari keplesetnya, atau membicarakan aib mereka jika memang ada aibnya ini saja dilarang apa lagi terhadap orang yang telah berjasa mendidik dirimu sehingga dirimu menjadi orang yang berilmu.

Wahai murid segeralah datang ke gurumu disaat engkau ada unek-unek dan hal yang dirasa tidak baik pada tempat belajar dan gurumu, bukan malah cerita ke orang lain yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan gurumu.

Al Imam Asy Syafi Rahimahullah berkata:

اصبر على مر من الجفا معلم

فإن رسوب العلم في نفراته

“Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru, sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya.”

Jasa mereka para guru yang telah memberikan dan mengajarkan ilmunya kepada muridnya dan manusia secara umum, yang kerap menahan amarahnya, yang selalu merasakan perihnya menahan kesabaran, sungguh sangat tak layak dan pantas seorang murid melupakan kebaikan dan jasa gurunya, dan seorang itu diperintahkan untuk berbakti kepada gurunya salah satu caranya adalah jangan pernah lupa menyisipkan nama mereka pada setiap doa dan hajatmu.

Dahulu para Salaf sungguh sangat baik doa mereka:

اللهم استر عيب شيخي عني ولا تذهب بركة علمه مني

“Ya Allah tutupilah aib guruku dariku, dan janganlah kau hilangkan keberkahan ilmunya dari ku.”

Banyak dari kalangan Salafus Shalih berkata:

ما صليت إلا ودعيت لوالدي ولمشايخي جميعاً

“Tidaklah aku mengerjakan sholat kecuali aku pasti mendoakan kedua orang tuaku dan guru-guruku semuanya.”

Allah berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” (Al Kahfi:28).

Karena rizki yang baik dan tidak ada yang lebih baik kecuali bersama orang orang yang berilmu dan yang selalu menyeru Allah Azza wa Jalla, terlebih gurumu yang menyemangati futurmu, menegur kesalahanmu baik di dalam dan di luar majelis mereka itulah gurumu yang asli dan orang yang paling sayang kepadamu, bukan hanya peduli disaat di kelas atau majelisnya saja.

Janganlah membuat dongkol gurumu..!

Diriwayatkan Yahya bin Yahya Al Laitsi tak beranjak dari tempat duduknya saat para kawannya keluar melihat rombongan gajah yang lewat di tengah pelajaran, yahya mengetahui tujuannya duduk di sebuah majelis adalah mendengarkan apa yang dibicarakan gurunya bukan yang lain, apa lagi penuntut ilmu jaman sekarang sedang diajak bicara sama gurunya malah pegang dan sibuk dengan hpnya, bagaimana akan berkah ilmunya, matikanlah hpmu jika sebelum ketemu gurumu agar mendapatkan banyak nasihat dan faidah dari mereka.

Saat diberikan tugas atau amanah tidak dikerjakan dengan segera dan menunggu ditanya dan ditagih, janganlah seperti itu sikapmu wahai murid dan penuntut ilmu…!

Semoga Allah memberikan rahmat dan kebaikan kepada guru kita dan guru kaum muslimin semuanya. Dan Semoga kita terus menjalankan adab dan akhlaq yang mulia kepada guru kita semua dimanapun mereka berada.

*****************************
 Yuk share ke yang lain *tanpa merubah isi dan sumbernya* dan jangan lupa like halaman kami…!

Dan jangan sampai ketinggalan, dengan ikuti jaringan medsos kami untuk mendapatkan artikel dan nasihat yang manfaat.

•┈┈•◈◉✹❒📖❒✹◉◈•┈┈•

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

Ustadz Abu Salman Al-Kwasayni حفظه الله.

 Di bumi Allah Bandung, Ahad 24 Jumadil akhir 1439 H.

 TG: https://www.telegram.me/alkwasayni
www.al-kwasayni.com
Fb: bit.ly/2o6WTJY
Konsultasi: bit.ly/2CasI8X

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *