Berbeda itu wajar dalam urusan fiqh yang penting diatas dalil

Sebagian pencari ilmu kurang paham bahwa yang mereka lihat adalah perbedaan dalam bab fiqh, karena yang mahsyur dari kalangan Imam yang dikenal ada 4 yaitu Imam madzhab, walaupun aslinya tak dibatasi jumlah ada berbagai madzhab yang, namun lebih dikenal 4 madzhab ini.

Jika seorang yang menisbahkan berada diatas manhaj Sahabat lalu berbeda dalam urusan aqidah, baru ditanyakan apakah ia benar-benar diatas manhaj Sahabat tidak.

Adapun masalah fiqh berbeda wajar dan wajib legowo. Al Imam Al-Bukhari pernah berkata tentang orang yang berilmu;

العلم فهم

“Ilmu itu adalah pemahaman.”

Al Imam Hasan Basri berkata:

“Ilmu itu bukan banyak hafalan riwayah atau dirayah, namun ilmu itu rasa takut kepada Allah.”

Belum lama kita dengar dan dijumpai bahwa ada silang pendapat antar dua Da’i Ahlu Sunnah berkaitan uang pangkal itu ghoror atau tidak. Nah sebagai orang yang tak memiliki kapasitas ilmu dalam hal yang menjadikan perdebatan, maka jika kita orang awam hendaknya diam dan tak ikut masuk ke dalam perdebatan tanpa hentinya karena tanpa didasari ilmu.

Namun ingatlah, bahwa manusia itu terbagi menjadi menjadi beberapa tingkatan:

1⃣   Ulama.
2⃣   Penuntut ilmu, dan penuntut dibagi menjadi 2, yaitu:
•a. Penuntut ilmu khusus.
•b. Penuntut ilmu umum.
3⃣   Orang awam.

Tak heran ketika Syaikh Al-Bany Rahimahullah ditanya oleh orang awam tentang suatu masalah, lalu orang tersebut bertanya; “apa hukumnya hal ini ya Syaikh?”, maka Syaikh Al-Bany menjawab: tidak boleh, lalu orang tersebut bertanya; “apa dalilnya ya Syaikh?“, maka Syaikh Al-Bany marah dengan orang tersebut.

Kenapa Syaikh Al-Bany marah?.

Karena orang awam itu tak butuh dalil rinci, dan yang ia butuhkan adalah hukumnya.

Oleh karenanya, lihatlah dirimu itu…! Apakah orang awam atau penuntut ilmu, dan bagian yang khusus atau umum. Jika engkau adalah penuntut ilmu yang khusus telitilah dan perdalamlah dengan menyelami kitab para ulama dan memahami kalam mereka dengan baik.

Syaikh Shalih Fauzan Hafidzahullah menjelaskan:

“Siapakah ahlul Qur’an itu?, beliau menjelaskan; bahwah ahlul Qur’an adalah orang yang mengamalkan isi Al-Qur’an walaupun terkadang ia belum hafal ayatnya.”

Engkau Ulama?, Cerahkanlah umat…!

Engkau penuntut ilmu khusus?, Dalamilah kitab para ulama dan ambilah faidah-faidah yang besar dan banyak untuk kepentingan dakwah haq ini.

Engkau penuntut ilmu umum?, maka sibuklah menuntut ilmu dan jangan masuk dalam fitnah dan persilihan para Du’at.

Engkau orang awam?, diamlah dan terkadang engkau wajib taqlid kepada orang yang berilmu.

Berbeda itu wajar bahkan berselisih jugapun demikian, jangan sampai berpecah dan menjadi gentar menghadapi musuh yang sebenarnya.

Engkau melihat sebuah ceramah, lalu engkau merasa ada yang berbeda, maka bantahlah ceramahnya dengan ceramah dirimu.

Engkau melihat artikel, lalu engkau berbeda pendapat dengan tulisan tersebut, maka bantahlah tulisannya dengan tulisanmu sendiri.

Jangan berbeda isi ceramah atau tulisan, lalu bantahannya dengan ceramah atau tulisan orang lain.

Ilmu itu apa yang sudah dipahami dan diamalkan, itulah ilmu, sebagaimana penjelasan Al Imam Ahmad bin Hanbal.

Allah berfirman:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً)

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, serta ulil amri diantara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa: 59).

Belajar dan terus berlatihlah wahai para penuntut ilmu untuk selalu ilmiah sesuai dalil dan tak mudah menyandarkan atau menyalahkan sesuatu pada orang lain.

Bantah-bantahan itu wajar, namun tetap diatas ilmu dan tak mencari kemenangan.

Muraja’ah dan muthala’ahlah wahai para penuntut ilmu khusus, jangan mudah mencari mudahnya saja dalam pendalilan…!

Oleh: Ustadz Abu Salman Al-Kwasayni

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *