Beda Jauh

Disaat dirimu dituntut disiplin di tempat kerjamu, engkau nurut. Namun ketika gurumu berusaha membantu untuk menghantarkan dirimu sukses belajar bahasa Al-Qur’an dengan mendisplinkanmu, engkau di belakang mengghibahnya; “bahwa ia (gurumu) gak memiliki perasaan”.

Disaat dirimu diberikan tugas di tempat kerjamu, engkau diam saja dan mengerjakan tugas itu walau hati berat dengan nurut. Namun ketika gurumu membantu mengasah kemampuanmu dengan ia memberikan amanah kepadamu agar di suatu hari yang akan datang menjadi seorang yang mumpuni ilmunya dan memiliki jiwa kemimpinan, namun malah dirimu di belakang mengghibah gurumu dengan ungkapan; “bahwa ia (gurumu) memberikan tugas yang tak pantas, kan aku masih penuntut ilmu”, yang mana lisanmu ketika berbicara nampak manis, namun memiliki maksud yang lain yaitu ingin sukses tanpa beban.

Disaat dirimu dituntut amanah di tempat kerjamu, engkau berusaha menjalankannya dengan baik. Namun ketika gurumu meminta agar amanah dalam menuntut ilmu dan menjalankan tugas dakwah, engkau di belakang mengghibahnya; “bahwa ia (gurumu) galak”.

Disaat dirimu dituntut menjalankan aturan di tempat kerjamu, engkau nurut tanpa banyak ngomong dan protes. Namun ketika gurumu menjalankan aturan yang sudah berlaku sebelumnyanya, engkau di belakang meminta keringan; “bahwa harusnya ia (gurumu) memberikan SP1 bukan tindakan atau menyita sesuatu, padahal jelas sebelumnya ada pengulangan pengumuman tentang aturan dan begitu juga teguran…”, bahkan lebih aneh lagi orang yang telah melakukan pelanggaran dan berusaha mengakuinya, dibilang mau nurut gurumu dan suamimu…!?, eh suami itu diikuti ucapannya jika berdasarkan dalil, bukan dengan perasaan.

Contoh aje ye, jika motormu ditilang karena tak membawa STNK dan SIM, lalu POLISI menahan motormu, apakah berani pendampingmu bilang: “Jangan mau tahan motornya, mau nurut suami atau polisi…!?”

Kenapa urusan dunia kita rela ditindak jika melalukan pelanggaran, namun ketika urusan menuntut ilmu dan agama, maka lisanmu tak rela dan berani protes, bahkan menyalahkan pihak yang mendiplinkanmu?.

Maunya apa sih…!!!???

Seorang yang mau berkunjung ke sebuah tempat ia harus mencari tahu aturan yang berlaku di tempat yang kamu tuju, bukan penanggung tempatnya dituntut kenapa mengulang-ngulang aturan.

Sebelum dirimu mendaftar ke sebuah lembaga tertentu, dirimu wajib mencari tahu apa saja aturan yang berlaku di lembaga tersebut, bukan lembaga atau pengurusnya disalahkan tak berperasaan, padahal dirimulah yang tak berperasaan karena jelas melakukan pelanggaran, eh malah meminta keringanan agar jangan ditindak atau disita barangmu. Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

المسلمون على شروطهم
“Seorang muslim itu diatas syarat muslim yang lain.”(HR. Tirmidzi)

Ketika dirimu tak terima ditindak dan disita barangmu, sementara sudah jelas aturannya, maka sesungguhnya dirimu sedang memprotes hadits diatas yang kaitannya dengan syarat dan akad.

Sebagaimana sebuah tempat kerja ada tata tertib dan aturan yang harus ditaati, begitu juga lembaga yang engkau sedang belajar di dalamnya.

Tak mungkin ada asap jika tanpa ada api…

Tak mungkin ada tindakan dan penertiban jika tanpa ada kesalahan…

Tak mungkin akibat muncul tanpa ada sebab…

Renunglah hikmahnya dibalik dirimu ditindak dan disiplinkan, karena disetiap musibah pasti ada hikmah yang banyak manusia tak memahaminya…

Ditulis oleh:  Ustadz Abu Salman Al-Kwasayni حفظه الله

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *