Akhlaq Mulia Ada Yang Berasal Dari Sifat Alami Dan Hasil Usaha

Sebagian manusia membawa dan memiliki akhlaq dari sifat alaminya yaitu sifat pembawaan dari lahirnya, ada pula yang mendapatkan akhlaq yang baik karena hasil usahanya yaitu dari hasil seorang yang belajar agama dengan baik dan benar serta berjuang meperbaiki akhlaqnya, sehingga muncullah akhlak yang mulia padanya.

Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda berkaitan dengan akhlaq yang alami pada diri Asyaj ‘Abdul Qois:

إن فيك لخلقين يحبهما الله : الحلم والأناة

“Sesungguhnya dalam dirimu ada dua sifat yang Allah cintai; sifat santun dan tidak tergesa-gesa”

Lalu Ia berkata:

يا رسول الله , أهما خلقان تخلقت بهما أم جبلني الله عليهما؟ [4]

”Wahai Rasulullah, Apakah kedua akhlaq tersebut merupakan hasil usahaku, atau Allahlah yang telah menetapkan keduanya padaku?”
Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:

بل جبلك الله عليهما

“Allahlah yang telah mengaruniakan keduanya padamu”. [5]

Kemudian ia berkata:

الحمد لله الذي جبلني على خلقين يحبهما ورسوله

“Segala puji bagi Allah yang telah memberikan dua akhlaq, yang mana Rasul-Nya mencintai keduanya”.

Maka, hal ini menunjukan bahwa akhlaq terpuji dan mulia bisa berupa perilaku alami (yakni karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya-pent) dan juga dapat berupa sifat yang dapat diusahakan atau diupayakan. Akan tetapi, tidak diragukan lagi bahwa sifat yang alami tentu lebih baik dari sifat yang diusahakan. Karena akhlaq yang baik jika bersifat alami akan menjadi perangai dan kebiasaan bagi seseorang. Ia tidak membutuhkan sikap berlebih-lebihan dalam membiasakannya. Juga tidak membutuhkan tenaga dan kesulitan dalam menghadirkannya. Akan tetapi, ini adalah karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Ia diberikan kepada seorang hamba
yang dikehendaki oleh-Nya, barangsiapa yang terhalang dari hal ini yakni terhalang dari akhlaq tersebut secara tabiat alami, maka sangat mungkin baginya untuk memperolehnya dengan jalan berusaha dan berupaya untuk membiasakannya. Yaitu dengan cara membiasakan dan melakukannya terus-menerus, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti Insya Allah.
Namun perlu digaris bawahi bahwa jika seseorang yang telah memiliki akhlaq secara alami kemudian dia hanya mencukupkan dari akhlaq alaminya tersebut, tentu lebih mulia akhlaq yang diusahakan dan dilatih, karena dilihat dari usaha dan kerja keras merubah akhlaqnya tersebut demi meraih ridha Allah, salah satu contohnya; Sahabat yang mulia ‘Umar bin Khatab Radhiallahu ‘Anhu beliau mengusahakan sifat tegasnya untuk membela agama Allah. Jika seorang yang sudah memiliki akhlaq alami dan Ia terus menambah kebaikannya agar dirinya lebih berakhlaq, maka hamba seperti inilah yang lebih utama.
Intinya seorang hamba disebut berakhlaq mulia apabila dirinya berdasarkan dalil baik sifat lembut atau tegasnya wajib berdasarkan dalil, tidak boleh lembut karena mengikuti hawa nafsu dan tegasnya juga seperti itu juga. Oleh karena itu siapapun yang tutur katanya dan amalan badannya serta sikapnya tersebut berdasarkan dalil, maka Ia adalah memilki akhlaq yang mulia. Begitu juga sebaliknya lemah lembutnya dan tegasnya tidak berdasarkan dalil maka Ia bukanlah seorang yang disebut memiliki akhlaq.
__________________
[4] Syaikh Ibnu Utsaimin, Makarimul Akhlaq, Hal. 8.
[5] Imam Abu Dawud, Kitabul Adab, No. (5225).

•┈┈➖•◈◉✹❒📖❒✹◉◈•➖┈┈•

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

🖊Ustadz Abu Salman Al-Kwasayni حفظه الله تعالى .

🌍 Di Bumi Allah MAKTABAH Al-Kwasayni, Selasa 14 Rajab 1438 H.

🌐www.al-kwasayni.com
📪telegram.me/alkwasayni
🐦twitter.com/alkwasayni
🔵Fb: bit.ly/2o6WTJY
🖼Instagram: bit.ly/2nhgAzZ
📹youtube: bit.ly/2odLKHL
📡Streaming: bit.ly/2o1B78B
📻Radio: 107.4 FM
♻WA : Daftar Al-Kwasayni Ketik
Nama#L/P#Alamat
Kirim 0821-1155-3775.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *