Akhlaq (3) – Kesempurnaan Syariat Islam

▶️⏩ Lanjutan…

Kesempurnaan Syariat Islam Dilihat Dari Segi Akhlaqnya

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah mengabarkan bahwa di antara salah satu tujuan dari diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlaq. Beliau Shallallahu ‘alaihi
wa Sallam bersabda:

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

” Sesungguhnya aku diutus tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.” [3]

Dan semua ajaran-ajaran generasi dahulu yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala syari’atkan bagi hamba-hamba-Nya, semuanya juga menganjurkan untuk berperilaku dengan akhlaq yang utama.

Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa akhlaq yang mulia merupakan sebuah tuntunan yang telah disepakati oleh semua syari’at.

Akan tetapi, dengan syari’at yang sudah telah  sempurna ini, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membawa dengan berbagai kesempurnaan akhlaq yang mulia dan sifat-sifat yang terpuji. Salah satu contohnya:

Tentang Qishas

Para ulama telah menjelaskan tentang masalah qishash ini, yaitu seandainya seseorang melakukan tindak kriminal
terhadap orang lain, apakah harus ditegakkan hukum qishash pada si pelaku ataukah tidak?.

Mereka menyebutkan bahwa hukum qishash dalam syari’at ajaran Yahudi mewajibkan dan harus dilaksanakannya, dan tidak ada pilihan bagi keluarga si korban dalam masalah tersebut. Adapun hukum qishash dalam ajaran Nasrani kebalikan dari ajaran Yahudi, yaitu mewajibkan memaafkan si pelaku.

Akan tetapi, syari’at kita yaitu syari’at Islam telah datang secara sempurna dari kedua sisi tersebut, boleh ditegakkan hukum dengan cara diqishash, boleh juga dengan cara memaafkan si pelaku.

Karena dengan melaksanaan hukum qishash terhadap si pelaku yang disebabkan oleh tindakan kriminalnya akan dapat menahan atau mencegah tindak kejahatan yang lainnya bahkan yang lebih besar dari hal tersebut, atau kata lain nyawa akan terjaga disebabkan adanya hukum qishas.

Sedangkan memaafkannya merupakan tindakan baik dan mulia, serta merupakan perbuatan yang ma’ruf terhadap orang yang dimaafkan. Namun dengan syarat bahwa kita harus  yakin bahwa jika Ia dimaafkan tidak mengulangi kesalahannya.

Maka, Alhamdulillah telah datang syari’at kita ini dalam keadaan yang sempurna, dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan dua pilihan kepada orang yang mempunyai hak, yaitu antara memberi maaf jika kondisinya memungkinkan demikian atau mengambil haknya jika kondisinya lebih mendukung untuk dilaksanakannya hal
tersebut.

Dan hal ini tidak diragukan lagi bahwa syari’at Islam itu lebih baik dari syari’at Yahudi dan Nasrani, yaitu hal kapan menerapkan hukum qishas atau memaafkan.
_______________
[3] Dikeluarkan oleh Imam Ahmad di kitab Al-Musnad (2 / 381), dan Hakim di kitab Al Mustadrok (2 / 613) dan di-shahih-kan olehnya sesuai dengan persyaratan Imam Muslim serta disepakati oleh Imam Dzahabi. Dan dikeluarkan juga oleh _Imam Bukhari di kitab al Adabul Mufrad, No (273), Baihaqi (10 / 192), Ibnu Abi Dunya dalam kitab Makaarimul Akhlaaq, No (13). Berkata Imam Al-Haitsami dalam kitab Majma’uz Zawaa-id (9 / 15): Diriwayatkan oleh Ahmad, dan para perawinya adalah perawi Shahih. Dan dishahihkan juga As Syaikh Al-Albany dalam kitab Ash-Silsilatush Shahihah, No. (45)._
•┈┈➖•◈◉✹❒📚❒✹◉◈•➖┈┈•

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

✍Ustadz Abu Salman Al-Kwasayni حفظه الله تعالى .

🌍 Di Bumi Allah Markaz Al-Kwasayni, Kamis 09 Rajab 1438 H.

🌐www.al-kwasayni.com
📪telegram.me/alkwasayni
🐦twitter.com/alkwasayni
🔵Fb: bit.ly/2o6WTJY
🖼Instagram: bit.ly/2p7rvbP
📹youtube: bit.ly/2odLKHL
📡Streaming: bit.ly/2o1B78B
📻Radio: 107.4 FM
♻WA : Daftar Al-Kwasayni Ketik
Nama#L/P#Alamat
Kirim 0821-1155-3775.

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *