Adab yang terlupakan…

Dahulu para salaf memberikan pelajaran kepada para muridnya dengan semua adab dan akhlaq. Begitu juga para penerus estafet dakwah mereka dari kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mencontohkan demikian.

Sangat disayangkan banyak yang menisbahkan sebagai penuntut ilmu di zaman ini, namun adab dan akhlaq menuntut ilmunya sangat jauh dari pendahulu mereka.

Jika gurumu lembut kepadamu, maka hal yang demikian adalah agar dirimu segera meniru dan mengamalkannya ilmunya.

Jika gurumu nampak cuek kepadamu, maka hal itu adalah pembelajaran bagimu agar engkau mengejar dan dekat kepadanya, bukan malah menjauh dengan kebodohanmu.

Ditambah dengan adanya setan gepeng (hp) bertambahlah kesalahanmu, menambah dirimu tidak beradab kepada gurumu.

Dahulu zaman Imam Ahmad bin Hanbal seorang yang menggerakan penanya di majelis beliau, maka penuntut ilmu yang lain akan menegurnya karena hal itu sangat mengganggu. Itulah ghiroh para salaf dalam mengamalkan ilmunya.

Sekarang ini banyak orang-orang yang mana mereka menisbahkan sebagai penuntut ilmu, namun sangat jauh akhlaq dan adabnya;

1. Mengukur sebuah kebaikan jika penyampainya itu dengan tutur kata lembut, sementara dirimu adalah penuntut ilmu yang paham.

2. Jika diberikan ketegasan oleh gurumu, maka engkau menggerutu di belakangnya, bahkan menghilangkan kebaikan-kebaikan orang yang telah mengajarkanmu ilmu dan banyak kebaikan.

3. Angkuh dan sombong jika gurumu menghubungi dengan tidak memberikan secuilpun jawaban, walau hal itu memang udzur misal; ketiduran atau ada hal lain yang membuat tidak langsung membalas apa yang disampaikan oleh gurumu. Walau menjawabnya terlambat tetap harus dijawab dengan mengucapkan “Maaf terlambat menjawab karena…” terlebih dahulu.

4. Lebih memandang realita keumuman masyarakat dibandingkan mengamalkan nasihat gurunya.

Tidak pantas jika siapapun dirimu yang mengaku penuntut ilmu, namun dirimu sangatlah tidak berakhlaq dan beradab kepada gurumu.

Gurumu menyampaikan sesuatu di hpmu, namun dirimu angkuh dan sombong tak bergeming untuk menjawab atau membalasnya.

Apapun yang disampaikan gurumu via hpmu janganlah engkau diamkan pastilah darinya penting untuk dirimu dan dakwah, karena hukumnya sama seperti alam nyata yaitu dirimu tidak menjawab apa yang disampaikan gurumu sementara beliau di depanmu. Kalau memang seperti itu sifat dan perilakumu, jangan pernah salahkan siapapun jika kondisimu adalah yang tidak mengenakan, sulit mengamalkan ilmumu apa lagi untuk mengajarkannya, walau minimal di dalam keluarga kecilmu.

Diammu akan mendatangkan malapetaka, misalpun engkau menjawab dengan nada atau tulisan yang tidak sopan, misal;
Guru : “Akhi tolong tugas ini segera dikerjakan…”, dirimu menjawab: “Ya” atau “Na’am”. Maka hal ini adalah sebuah kesalahan yang fatal dan nyata, apa susahnya menjawab “Ya Ustadz atau Na’am Ustadz” atau minimal dirimu menjawab baik lisan atau tulisan “Ya Tadz atau Na’am Tadz”.

Jangan angkuh wahai para penuntut ilmu, jawabanmu adalah cermin dari berkah ilmu yang didapatkan dari gurumu.

Seorang murid yang menjawab kurang lengkap apa yang disampaikan gurunya baik lisan atau tulisan saja bisa terjatuh pada su’ul adab kepada gurunya, apa lagi yang membisu tanpa jawaban apa-apa dari lisan atau tulisannya.

Penuntut ilmu dituntut mengamalkan ilmunya, jangan malah berbalik minta bukti pada gurunya mengamalkan ilmu akhlaqnya kepada gurunya. Ini adalah bentuk kesalahan dan angkuhnya penuntut ilmu.

Semua mengetahui dan paham, bahwa seorang dikatakan berilmu jika ia mengamalkan ilmunya. Maka tidak mungkin guru mengajarkan sesuatu ilmu namun ia belum mengamalkannya, sangat tidak mungkin. Ada memang orang yang tidak amanah seperti itu, namun biasanya tidak memiliki murid akan tetapi hanya jamaah saja.

Ingatlah buang sombong dan angkuhmu dengan jawablah apa yang disampaikan gurumu baik langsung di depanmu atau via hpmu, maka segeralah dirimu menjawab…!

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

البركة مع أكابركم

“Keberkahan bersama dengan orang yang lebih tua diantara kalian.” [HR. Ibnu Hibban]

Asy Syaikh Ibrahim Ar Ruhaily berkata:

أي :أن الخير والنفع إنما هو مع أكابركنا وأكابرنا نوعان

“Yaitu, kebaikan dan manfaat hanya ada bersama dengan orang yang lebih tua diantara kita, dan yang lebih tua itu ada dua macam :

١-اكابرنا في السن ،كبار السن مناالبركة معهم والنفع معهم والخير معهم لأن الدنيا علمتهم والتجارب حنكتهم فهم لا يتعجلون وتستفيد من تجاربهم كثيرا

1. Yang lebih tua dalam hal usia.

Orang yang lebih tua dari segi usia dibanding kita, maka mereka memiliki manfaat dan kebaikan, karena dunialah yang mengajari mereka dan pengalaman yang menempa mereka. Sehingga mereka bukanlah orang yang suka tergesa-gesa, dan dari pengalaman mereka bisa diambil manfaat yang besar.

٢-كبار العلم وهؤلاء بركتهم أعظم ومن جمع بين الأمرين فهو أبرك ،من جمع بين كبر السن والعلم فالبركة معه أعظم

2. Yang lebih tua dalam hal ilmu.

Keberkahan pada mereka lebih besar lagi.

Apalagi orang yang terkumpul padanya dua hal ini, yaitu tua dalam hal usia dan ilmu, maka lebih berkah lagi.”

Salah satu sebab keberkahanmu itu wahai para penuntut ilmu, karena dirimu beradab dan berakhlaq serta bahagia jika ketemu gurumu dan ingin lama bersamanya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *